Selasa, 23 Juli 2013

Ara Part 1

Diposting oleh LoveMoney di 21.46
 “Ara nggak mau kuliah di sana ma. Itu universitas swasta”, entah untuk ke berapa kalinya aku berpegang teguh pada pendirianku.
            “Tapi kamu mau kerja apa kalau kuliah di universitas ‘negeri’ mu itu?”, terdengar mama memberi penekanan pada kata negeri di ucapannya. Aku hanya terdiam menunduk, aku sudah malas berdebat masalah ini. Semua perdebatan kami sebelumnya hampir tak berujung, tak mendapatkan kesepakatan apapun.
            “Urusan kerja Insya Allah ma. Universitas Y kan universitas negeri bergengsi di negeri ini, pasti banyak yang menginginkan lulusannya”, kataku hati-hati, berharap mama bisa menyerahkan masalah universitas ini padaku. Aku hanya mau menentukan masa depanku sendiri, tanpa diatur-atur begini.
            “Lagian Universitas Y biayanya murah ma, jadi Ara nggak harus nambah beban mama dengan biaya kuliah mahal”, desakku lagi
            “Sudah, kamu tetap kuliah di Universitas X saja!”, ucap mama tegas sambil berjalan meninggalkanku di kamar.
            “Terserah deh”, bisikku lemah, putus asa.
$$$
            Aku berjalan lemah menuju kampusku, tak ada niat, tak ada semangat. Jarak kosanku dan kampus yang sangat dekat itu berasa berkilo-kilo meter karena keenggananku ke tempat itu. Entahlah, hatiku masih enggan mengakui tempat itu kampusku, masih tak rela selama empat tahun diriku akan terdampar disini.
            Aku berjalan perlahan menaiki tangga, menuju kelasku di lantai tiga. Aku kembali mengecek jadwal takut salah masuk kelas di hari pertamaku. Akhirnya aku menemukan ruangan itu, dengan langkah perlahan aku masuk kelas. Aku mengedarkan pandangan di seluruh kelas itu, terlihatlah muka-muka asing, muka-muka tak peduli pada siapapun, tampak teman-teman baruku itu sudah duduk di tempat duduk mereka masin-masing.
            “Yaaaah, tinggal di barisan depan yang masih kosong”, bisikku dalam hati. Aku kemudian duduk sambil tersenyum lemah dengan perempuan kecil disebelahku. Aku mengamati perempuan itu diam-diam, wajahnya bulat berkaca mata dengan jilbab putih, terlihat tampang kanak-kanak di mukanya. Merasa diamati, dia melihatku lagi, aku hanya tersenyum malu tertangkap basah sedang mengamatinya.
            “Risky”
            “Ara”, balasku sambil tersenyum manis, kamipun bersalaman. “Dari mana?”, tanyaku basa-basi.
            “Tasik, kamu dari mana?, jawabnya lembut, ada nada ramah di suaranya, kembali ia tersenyum.
             “Palembang”, jawabku singkat
$$$
            Sudah dua minggu aku kuliah disini, dan kerjaanku hanya kuliah pulang kuliah pulang, tak berniat untuk mengikuti kegiatan apapun di kampus ini. Sekedar bergosip dengan teman-teman di kantin saja aku enggan, aku lebih memilih diam di kamar kecil kostanku seorang diri. Hampir tiap hari mama menelponku, sekedar menanyakan kabar dan menggosipkan apa saja, aku selalu senang saat-saat ini, menandakan mama selalu peduli padaku. Tapi terkadang tak jarang terbesit benci kepada mama atas ‘paksaan’ untuk kuliah disini.

            Di kosan pun, aku kebanyakan diam di kamar, malas bergaul dengan teman-teman sekosanku. Hanya sekali-sekali aku mengobrol dengan mereka, itupun hanya mengobrol sekali lewat saat aku pergi atau pulang kuliah. Sepanjang hari, sepanjang malam, aku hanya berdiam diri di kamar ditemani oleh buku-buku. Saking bencinya aku kuliah disini, yang aku lakukan hanya belajar agar aku cepat lulus dari sini. Kegiatanku seperti ini membuat aku terasingkan di antara teman-teman sekosanku.
To be continue~~

0 komentar on "Ara Part 1"

Posting Komentar

Selasa, 23 Juli 2013

Ara Part 1

 “Ara nggak mau kuliah di sana ma. Itu universitas swasta”, entah untuk ke berapa kalinya aku berpegang teguh pada pendirianku.
            “Tapi kamu mau kerja apa kalau kuliah di universitas ‘negeri’ mu itu?”, terdengar mama memberi penekanan pada kata negeri di ucapannya. Aku hanya terdiam menunduk, aku sudah malas berdebat masalah ini. Semua perdebatan kami sebelumnya hampir tak berujung, tak mendapatkan kesepakatan apapun.
            “Urusan kerja Insya Allah ma. Universitas Y kan universitas negeri bergengsi di negeri ini, pasti banyak yang menginginkan lulusannya”, kataku hati-hati, berharap mama bisa menyerahkan masalah universitas ini padaku. Aku hanya mau menentukan masa depanku sendiri, tanpa diatur-atur begini.
            “Lagian Universitas Y biayanya murah ma, jadi Ara nggak harus nambah beban mama dengan biaya kuliah mahal”, desakku lagi
            “Sudah, kamu tetap kuliah di Universitas X saja!”, ucap mama tegas sambil berjalan meninggalkanku di kamar.
            “Terserah deh”, bisikku lemah, putus asa.
$$$
            Aku berjalan lemah menuju kampusku, tak ada niat, tak ada semangat. Jarak kosanku dan kampus yang sangat dekat itu berasa berkilo-kilo meter karena keenggananku ke tempat itu. Entahlah, hatiku masih enggan mengakui tempat itu kampusku, masih tak rela selama empat tahun diriku akan terdampar disini.
            Aku berjalan perlahan menaiki tangga, menuju kelasku di lantai tiga. Aku kembali mengecek jadwal takut salah masuk kelas di hari pertamaku. Akhirnya aku menemukan ruangan itu, dengan langkah perlahan aku masuk kelas. Aku mengedarkan pandangan di seluruh kelas itu, terlihatlah muka-muka asing, muka-muka tak peduli pada siapapun, tampak teman-teman baruku itu sudah duduk di tempat duduk mereka masin-masing.
            “Yaaaah, tinggal di barisan depan yang masih kosong”, bisikku dalam hati. Aku kemudian duduk sambil tersenyum lemah dengan perempuan kecil disebelahku. Aku mengamati perempuan itu diam-diam, wajahnya bulat berkaca mata dengan jilbab putih, terlihat tampang kanak-kanak di mukanya. Merasa diamati, dia melihatku lagi, aku hanya tersenyum malu tertangkap basah sedang mengamatinya.
            “Risky”
            “Ara”, balasku sambil tersenyum manis, kamipun bersalaman. “Dari mana?”, tanyaku basa-basi.
            “Tasik, kamu dari mana?, jawabnya lembut, ada nada ramah di suaranya, kembali ia tersenyum.
             “Palembang”, jawabku singkat
$$$
            Sudah dua minggu aku kuliah disini, dan kerjaanku hanya kuliah pulang kuliah pulang, tak berniat untuk mengikuti kegiatan apapun di kampus ini. Sekedar bergosip dengan teman-teman di kantin saja aku enggan, aku lebih memilih diam di kamar kecil kostanku seorang diri. Hampir tiap hari mama menelponku, sekedar menanyakan kabar dan menggosipkan apa saja, aku selalu senang saat-saat ini, menandakan mama selalu peduli padaku. Tapi terkadang tak jarang terbesit benci kepada mama atas ‘paksaan’ untuk kuliah disini.

            Di kosan pun, aku kebanyakan diam di kamar, malas bergaul dengan teman-teman sekosanku. Hanya sekali-sekali aku mengobrol dengan mereka, itupun hanya mengobrol sekali lewat saat aku pergi atau pulang kuliah. Sepanjang hari, sepanjang malam, aku hanya berdiam diri di kamar ditemani oleh buku-buku. Saking bencinya aku kuliah disini, yang aku lakukan hanya belajar agar aku cepat lulus dari sini. Kegiatanku seperti ini membuat aku terasingkan di antara teman-teman sekosanku.
To be continue~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

LoveMoney Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Birthday Gift Idea