“Ara nggak mau kuliah di sana ma. Itu
universitas swasta”, entah untuk ke berapa kalinya aku berpegang teguh pada
pendirianku.
“Tapi kamu mau kerja apa kalau
kuliah di universitas ‘negeri’ mu itu?”, terdengar mama memberi penekanan pada
kata negeri di ucapannya. Aku hanya terdiam menunduk, aku sudah malas berdebat
masalah ini. Semua perdebatan kami sebelumnya hampir tak berujung, tak
mendapatkan kesepakatan apapun.
“Urusan kerja Insya Allah ma.
Universitas Y kan universitas negeri bergengsi di negeri ini, pasti banyak yang
menginginkan lulusannya”, kataku hati-hati, berharap mama bisa menyerahkan
masalah universitas ini padaku. Aku hanya mau menentukan masa depanku sendiri,
tanpa diatur-atur begini.
“Lagian Universitas Y biayanya murah
ma, jadi Ara nggak harus nambah beban mama dengan biaya kuliah mahal”, desakku
lagi
“Sudah, kamu tetap kuliah di
Universitas X saja!”, ucap mama tegas sambil berjalan meninggalkanku di kamar.
“Terserah deh”, bisikku lemah, putus
asa.
$$$
Aku berjalan lemah menuju kampusku,
tak ada niat, tak ada semangat. Jarak kosanku dan kampus yang sangat dekat itu
berasa berkilo-kilo meter karena keenggananku ke tempat itu. Entahlah, hatiku
masih enggan mengakui tempat itu kampusku, masih tak rela selama empat tahun
diriku akan terdampar disini.
Aku berjalan perlahan menaiki
tangga, menuju kelasku di lantai tiga. Aku kembali mengecek jadwal takut salah
masuk kelas di hari pertamaku. Akhirnya aku menemukan ruangan itu, dengan
langkah perlahan aku masuk kelas. Aku mengedarkan pandangan di seluruh kelas
itu, terlihatlah muka-muka asing, muka-muka tak peduli pada siapapun, tampak
teman-teman baruku itu sudah duduk di tempat duduk mereka masin-masing.
“Yaaaah, tinggal di barisan depan
yang masih kosong”, bisikku dalam hati. Aku kemudian duduk sambil tersenyum
lemah dengan perempuan kecil disebelahku. Aku mengamati perempuan itu
diam-diam, wajahnya bulat berkaca mata dengan jilbab putih, terlihat tampang
kanak-kanak di mukanya. Merasa diamati, dia melihatku lagi, aku hanya tersenyum
malu tertangkap basah sedang mengamatinya.
“Risky”
“Ara”, balasku sambil tersenyum
manis, kamipun bersalaman. “Dari mana?”, tanyaku basa-basi.
“Tasik, kamu dari mana?, jawabnya
lembut, ada nada ramah di suaranya, kembali ia tersenyum.
“Palembang”, jawabku singkat
$$$
Sudah dua minggu aku kuliah disini,
dan kerjaanku hanya kuliah pulang kuliah pulang, tak berniat untuk mengikuti
kegiatan apapun di kampus ini. Sekedar bergosip dengan teman-teman di kantin
saja aku enggan, aku lebih memilih diam di kamar kecil kostanku seorang diri.
Hampir tiap hari mama menelponku, sekedar menanyakan kabar dan menggosipkan apa
saja, aku selalu senang saat-saat ini, menandakan mama selalu peduli padaku.
Tapi terkadang tak jarang terbesit benci kepada mama atas ‘paksaan’ untuk
kuliah disini.
Di kosan pun, aku kebanyakan diam di
kamar, malas bergaul dengan teman-teman sekosanku. Hanya sekali-sekali aku
mengobrol dengan mereka, itupun hanya mengobrol sekali lewat saat aku pergi
atau pulang kuliah. Sepanjang hari, sepanjang malam, aku hanya berdiam diri di
kamar ditemani oleh buku-buku. Saking bencinya aku kuliah disini, yang aku
lakukan hanya belajar agar aku cepat lulus dari sini. Kegiatanku seperti ini
membuat aku terasingkan di antara teman-teman sekosanku.
To be continue~~
0 komentar on "Ara Part 1"
Posting Komentar